Rabu, 05 November 2014


KONSEP,TUJUAN,DAN  PERAN TIK SEBAGAI MEDIA DALAM ILMU MANAJEMEN




1.PENGERTIAN
           Information and Communication Technology (ICT) merupakan satu istilah yang sudah tidak asing lagi bagi kita. ICT yang kemudian diterjemahkan sebagai Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sudah menjadi bagian dari keseharian,kita sedang berada dalam pusaran gelombang perubahan teknologi informasi pendidikan tidak dapat menghindarkan diri dari pengaruh gelombang perubahan teknologi informasi. Respon kita terhadap gelombang perubahan tersebut adalah memanfaatkannya sebagai wahana transformasi,dalam  ILMU MANAJEMEN dapat menjadi alat bantu pembelajaran,standar kompetensi,media promosi,pekejaan,kebebasan berekspresi,sosial dan budaya, Karena peran TIK begitu penting dalam segala hal.

            Termasuk yang saat ini sedang gencarnya dilakukan oleh salah perguruan tinggi di Surabaya yaitu Universitas Narotama menjadikan TIK sebagai media untuk tujuan sumbangsih kemajuaan bangsa indonesia,menjadikan mahasiswa  menjadi seorang yang pro patria sesuai visi dan misi universitas narotama,mengembangkan kreativitas tanpa batas di dunia maya.nilai-nilai budaya dalam filosofi pendidikan serta menambah wawasan dan lmu pengetahuan yang berguna dalam kehidupan,
        salah satu fakultas di Universitas NarotamaFenaro ) telah mengalami kemajuan yang cukup pesat terutama dalam bidang TIK dengan dijadikannya TIK sebagai media pembelajaran yang sangat kompetitif dalam materi pembelajaran di kampus salah satunya yaitu e-Learning narotama (eLINa),sekaligus sebagai media promosi,dan sosialisasi.keberhasilan itu tidak luput karena cara dan media penyampaian yang jelas,akurat,dan dapat dipercaya sebagai sumbernya.

2.KONSEP

Beberapa hal berikut ini dapat kita jadikan acuan sebagai konsep dasar yang paling sederhana dalam mengaplikasikan ICT/Komputer dalam dunia pendidikan, dan pembelajaran, yaitu:
  1. Adanya web site pada sekolah dengan dwi bahasa (Inggris dan Indonesia)
a.Pusat interkoneksi intranet dan internet di setiap sekolah.
b. Pusat layanan informasi pendidikan bagi sekolah, Pemerintah, industri dan masyarakat yang meliputi kegiatan sekolah antara lain: Penerimaan Siswa Baru, Data Sekolah, Data Siswa, Proses Pembelajaran, Berita Sekolah, Bursa Kerja Khusus, Evaluasi, dll.
  1. Sarana Komunikasi Sisterschool dan partnership dengan sekolah luar negeri. ICT sebagai alat komunikasi di sekolah dan dengan partnership Luar negeri bermanfaat sebagai:
a. Video Conference (Pembelajaran Jarak Jauh)
b. Tukar-menukar informasi unutk mengembangkan pembelajaran
  1. ICT sebagai instrument untuk menampilkan pelaporan sekolah kepada stakeholder (Pemerintah, Guru, Pemda, masyarakat dan industri serta partnership.
  2. Sarana kemudahan presentasi dan akses ke sumber referensi
    1. Sumber data informasi lembaga yang berfungsi sebagai media informasi dan promosi kinerja lembaga.
    2. Berkenaan dengan tujuan dan sasaran dari pendidikan dan pembelajaran pada masyarakat pendidikan.
    3. Apakah silabus yang dipakai sudah tepat dan dimana tempat untuk mencari acuan yang tepat.
    4. Metode-metode pengajaran harus tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan
    5. Jadwal pelajaran, jadwal diklat, atau jadwal ujian dapat di-upload secara online
    6. Pemberian tugas dan pengumpulan data
    7. Sebagai media penampung informasi daftar referensi atau bahan bacaan
    8. Profil lembaga dan kontak pengajar atau masyarakat instansi
a. Pemanfaatan diktat dan catatan pelajaran
b. Memudahkan pencarian dan pembuatan bahan presentasi
c. Sebagai bank data semisal mencari contoh ujian yang lalu atau soal yang lalu
d. Sebagai media tanya jawab / FAQ (frequently asked questions)
e. Sumber-sumber referensi untuk pengerjaan tugas
f. Sebagai penyedia situs-situs bermanfaaat
g. Pencarian artikel-artikel dalam jurnal online
  1. Sarana Komunikasi dalam kelas yang atraktif, inovatif dan menarik
    1. Pemanfaatan forum diskusi online
    2. Mailing list diskusi
    3. Papan pengumuman yang menyediakan informasi (perubahan jadwal kuliah, informasi tugas dan deadline-nya)
    4. Sarana untuk melakukan kerja kelompok
6. Sarana untuk sharing file dan direktori dalam kelompok
7.  sarana diskusi untuk mengerjakan tugas dalam kelompok
3.TUJUAN

 
 
                      Tujuan pengembangan ICT atau komputer dalam pendidikan adalah:
a)      Menciptakan pusat layanan informasi pendidikan bagi sekolah, industri dan masyarakat.
b)      Pusat interkoneksi intranet dan internet di setiap kota/kabupaten dan sekolah.
c)      Memperluas proses pembelajaran yang terstandar di semua jenjeng pendidikan di seluruh Indonesia.
d)     Menmgurangi disparitas pendidikan di setiap jenjeng pendidikan di seluruh Indonesia. Sebagai sarana pembelajaran jarak jauh yang merupakan salah satu strategi untuk meningkatkan mutu pendidikan. Mempersiapkan SDM Indonesia yang memiliki kompetensi skala nasional dan internasional berbasis keunggulan lokal. Manajemen Berbasis Sekolah (Suplemen BAC) 7
e)      Menyediakan pusat informasi yang inovatif yang mampu membangkitkan kreatifitas guna meningkatkan kompetensi.
f)       Mendistribusikan internet ke sekolah, dinas pendidikan dan institusi pendidikan lainnya.
g)      Membantu memajukan perekonomian daerah melalui informasi dan komunikasi.
Untuk membuat media pembelajaran yang kreatif dan inovatif bebasis ICT perlu memanfaatkan perangkat multimedia. Dengan perangkat multimedia dapat menyerap konsentrasi dari segala aspek rangsangan yang ada pada indra manusia, antara lain visual, audio dan motorik.
  1.   Pemanfaatan e-Learning
Ketika kita berbicara tentang pemanfatan e-Learning, maka hakikatnya adalah sama saja dengan strategi pemanfaatan perangkat lunak. Hal ini karena e-Learning adalah juga merupakan suatu perangkat lunak. Aplikasi e-Learning terlengkap dan terbaik yang ada di internet belum tentu sesuai dengan kebutuhan sebenarnya dari pengguna. Saat ini sebenarnya industri e-Learning sedang mengalami krisis, yang berakibat ke kegagalan e-Learning. Dari sebuah studi tahun 2000 yang dilakukan oleh Forrester Group kepada 40 perusahaan besar menunjukkan bahwa sebagian besar pekerja (lebih dari 68%) menolak untuk mengikuti pelatihan/kursus yang menggunakan konsep e-Learning. Ketika e-Learning itu diwajibkan kepada mereka 30% menolak untuk mengikuti ([Dublin, 2003] dalam Romi Satria Wahono. IlmuKomputer.Com)
Sedangkan studi lain mengindikasikan bahwa dari orang-orang yang mendaftar untuk mengikuti e-Learning, 50-80% tidak pernah menyelesaikannya sampai akhir ([Delio, 2000] dalam Romi Satria Wahono)
Dari berbagai literatur yang ada, kegagalan e-Learning sebagian besar diakibatkan oleh kegagalan dalam analisa kebutuhan yang mengandung pengertian bahwa pengembang tidak berhasil meng-capture apa sebenarnya kebutuhan dari pengguna (user needs). Hasil dari proses analisa kebutuhan (requirements analysis) pengguna diterjemahkan sebagai fitur-fitur yang sebaiknya masuk dalam sistem e-Learning yang di kembangkan.
Sebagai pedoman fitur-fitur yang biasanya disediakan dalam sistem e-learning dapat menggunakan konsep penggunaan ICT yang penulis kemukakan diatas. Karena pada dasarnya e-Learning merupakan salah satu metode penerapan ICT yang berbasis WEB dengan menggunakan teknologi Internet, dalam artian sistem jaringan online yang lebih luas tanpa batas. Dengan sistem e-Learning, seseorang yang ingin belajar bebas untuk memilih apa yang akan di pelajari dalam waktu yang tidak terikat dan bebas untuk mengekspresikan semua materi yang didapatkan.
Dalam pembuatan konsep pengaplikasian e-Learning alangkah baiknya bila kita gunakan konsep-konsep yang berbasis pada analisis kebutuhan tiap-tiap pemakai. Sehingga dalam hal ini diperlukan suatu kerja sama yang saling berkaitan dalam membentuk suatu wadah untuk menuangkan karya cipta antara kebutuhan dan proses produksi materi untuk menghasilkan pembelajaran berbasis e-Learning yang optimal dan sesuai. Maka dalam hal ini diperlukan suatu pengembangan SDM yang dapat menguasai teknologi dan materi-materi pendidikan untuk dapat bekerja sama membentuk team work yang solid.
Merangkum berbagai pemikiran, Uwes A. Chaeruman (2008) menyatakan bahwa integrasi TIK dalam pembelajaran yang sesungguhnya harus memungkinkan terjadinya proses belajar yang:
  1. Aktif; memungkinkan siswa dapat terlibat aktif oleh adanya proses belajar yang menarik dan bermakna.
  2. Konstruktif; memungkinkan siswa dapat menggabungkan ide-ide baru kedalam pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya untuk memahami makna atau keinginan tahuan dan keraguan yang selama ini ada dalam benaknya.
  3. Kolaboratif; memungkinkan siswa dalam suatu kelompok atau komunitas yang saling bekerjasama, berbagi ide, saran atau pengalaman, menasehati dan memberi masukan untuk sesama anggota kelompoknya.
  4. Antusiastik; memungkinkan siswa dapat secara aktif dan antusias berusaha untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
  5. Dialogis; memungkinkan proses belajar secara inherent merupakan suatu proses sosial dan dialogis dimana siswa memperoleh keuntungan dari proses komunikasi tersebut baik di dalam maupun luar sekolah.
  6. Kontekstual; memungkinkan situasi belajar diarahkan pada proses belajar yang bermakna (real-world) melalui pendekatan ”problem-based atau case-based learning
  7. Reflektif; memungkinkan siswa dapat menyadari apa yang telah ia pelajari serta merenungkan apa yang telah dipelajarinya sebagai bagian dari proses belajar itu sendiri. (Jonassen (1995), dikutip oleh Norton et al (2001)).
  8. Multisensory; memungkinkan pembelajaran dapat disampaikan untuk berbagai modalitas belajar (multisensory), baik audio, visual, maupun kinestetik (dePorter et al, 2000).
  9. High order thinking skills training; memungkinkan untuk melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi (seperti problem solving, pengambilan keputusan, dll.) serta secara tidak langsung juga meningkatkan ”ICT & media literacy” (Fryer, 2001).

DAFTAR PUSTAKA
Ade Koesnandar. 2007. TIK untuk pembelajaran. Jakarta: Pustekom Depdiknas.
Asep Zaenal Rahmat. 2008. Strategi pembelajaran berbasis TIK. Jakarta: Pustekom Depdiknas.
Departemen Pendidikan Nasional, 2006. Garis Besar Program Kegiatan Pengembangan ICT dan TV Edukasi. Jakarta: Direkturat Pembinaan SMK.
Isjoni, dkk, 2008, ICT Untuk Sekolah Unggul. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Puji Raharjo. 2008. Pemanfaatan internet dalam pembelajaran Jakarta: Pustekom Depdiknas

KONSEP,TUJUAN,DAN PERAN TIK SEBAGAI MEDIA DALAM ILMU MANAJEMEN


1.PENGERTIAN
Information and Communication Technology (ICT) merupakan satu istilah yang sudah tidak asing lagi bagi kita. ICT yang kemudian diterjemahkan sebagai Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sudah menjadi bagian dari keseharian,kita sedang berada dalam pusaran gelombang perubahan teknologi informasi pendidikan tidak dapat menghindarkan diri dari pengaruh gelombang perubahan teknologi informasi. Respon kita terhadap gelombang perubahan tersebut adalah memanfaatkannya sebagai wahana transformasi,dalam  ILMU MANAJEMEN dapat menjadi alat bantu pembelajaran,standar kompetensi,media promosi,pekejaan,kebebasan berekspresi,sosial dan budaya, Karena peran TIK begitu penting dalam segala hal.
unnar1.jpg
            Termasuk yang saat ini sedang gencarnya dilakukan oleh salah perguruan tinggi di Surabaya yaitu(    )menjadikan TIK sebagai media untuk tujuan sumbangsih kemajuaan bangsa indonesia,menjadikan mahasiswa  menjadi seorang yang pro patria sesuai visi dan misi universitas narotama,mengembangkan kreativitas tanpa batas di dunia maya.nilai-nilai budaya dalam filosofi pendidikan serta menambah wawasan dan lmu pengetahuan yang berguna dalam kehidupan,                                                                                                                                                      salah satu fakultas di universitas narotama (fe  ) telah mengalami kemajuan yang cukup pesat terutama dalam bidang TIK dengan dijadikannya TIK sebagai media pembelajaran yang sangat kompetitif dalam materi pembelajaran di kampus salah satunya yaitu e-Learning narotama (eLINa),sekaligus sebagai media promosi,dan sosialisasi.keberhasilan itu tidak luput karena cara dan media penyampaian yang jelas,akurat,dan dapat dipercaya sebagai sumbernya.
konsep-dasar-tik-1-638.jpg
2.KONSEP
Beberapa hal berikut ini dapat kita jadikan acuan sebagai konsep dasar yang paling sederhana dalam mengaplikasikan ICT/Komputer dalam dunia pendidikan, dan pembelajaran, yaitu:
  1. Adanya web site pada sekolah dengan dwi bahasa (Inggris dan Indonesia)
a.Pusat interkoneksi intranet dan internet di setiap sekolah.
b. Pusat layanan informasi pendidikan bagi sekolah, Pemerintah, industri dan masyarakat yang meliputi kegiatan sekolah antara lain: Penerimaan Siswa Baru, Data Sekolah, Data Siswa, Proses Pembelajaran, Berita Sekolah, Bursa Kerja Khusus, Evaluasi, dll.
  1. Sarana Komunikasi Sisterschool dan partnership dengan sekolah luar negeri. ICT sebagai alat komunikasi di sekolah dan dengan partnership Luar negeri bermanfaat sebagai:
a. Video Conference (Pembelajaran Jarak Jauh)
b. Tukar-menukar informasi unutk mengembangkan pembelajaran
  1. ICT sebagai instrument untuk menampilkan pelaporan sekolah kepada stakeholder (Pemerintah, Guru, Pemda, masyarakat dan industri serta partnership.
  2. Sarana kemudahan presentasi dan akses ke sumber referensi
    1. Sumber data informasi lembaga yang berfungsi sebagai media informasi dan promosi kinerja lembaga.
    2. Berkenaan dengan tujuan dan sasaran dari pendidikan dan pembelajaran pada masyarakat pendidikan.
    3. Apakah silabus yang dipakai sudah tepat dan dimana tempat untuk mencari acuan yang tepat.
    4. Metode-metode pengajaran harus tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan
    5. Jadwal pelajaran, jadwal diklat, atau jadwal ujian dapat di-upload secara online
    6. Pemberian tugas dan pengumpulan data
    7. Sebagai media penampung informasi daftar referensi atau bahan bacaan
    8. Profil lembaga dan kontak pengajar atau masyarakat instansi
a. Pemanfaatan diktat dan catatan pelajaran
b. Memudahkan pencarian dan pembuatan bahan presentasi
c. Sebagai bank data semisal mencari contoh ujian yang lalu atau soal yang lalu
d. Sebagai media tanya jawab / FAQ (frequently asked questions)
e. Sumber-sumber referensi untuk pengerjaan tugas
f. Sebagai penyedia situs-situs bermanfaaat
g. Pencarian artikel-artikel dalam jurnal online
  1. Sarana Komunikasi dalam kelas yang atraktif, inovatif dan menarik
    1. Pemanfaatan forum diskusi online
    2. Mailing list diskusi
    3. Papan pengumuman yang menyediakan informasi (perubahan jadwal kuliah, informasi tugas dan deadline-nya)
    4. Sarana untuk melakukan kerja kelompok
6. Sarana untuk sharing file dan direktori dalam kelompok
7.  sarana diskusi untuk mengerjakan tugas dalam kelompok
elearning.png
3.TUJUAN
Tujuan pengembangan ICT atau komputer dalam pendidikan adalah:
a)      Menciptakan pusat layanan informasi pendidikan bagi sekolah, industri dan masyarakat.
b)      Pusat interkoneksi intranet dan internet di setiap kota/kabupaten dan sekolah.
c)      Memperluas proses pembelajaran yang terstandar di semua jenjeng pendidikan di seluruh Indonesia.
d)     Menmgurangi disparitas pendidikan di setiap jenjeng pendidikan di seluruh Indonesia. Sebagai sarana pembelajaran jarak jauh yang merupakan salah satu strategi untuk meningkatkan mutu pendidikan. Mempersiapkan SDM Indonesia yang memiliki kompetensi skala nasional dan internasional berbasis keunggulan lokal. Manajemen Berbasis Sekolah (Suplemen BAC) 7
e)      Menyediakan pusat informasi yang inovatif yang mampu membangkitkan kreatifitas guna meningkatkan kompetensi.
f)       Mendistribusikan internet ke sekolah, dinas pendidikan dan institusi pendidikan lainnya.
g)      Membantu memajukan perekonomian daerah melalui informasi dan komunikasi.
Untuk membuat media pembelajaran yang kreatif dan inovatif bebasis ICT perlu memanfaatkan perangkat multimedia. Dengan perangkat multimedia dapat menyerap konsentrasi dari segala aspek rangsangan yang ada pada indra manusia, antara lain visual, audio dan motorik.
  1.   Pemanfaatan e-Learning
Ketika kita berbicara tentang pemanfatan e-Learning, maka hakikatnya adalah sama saja dengan strategi pemanfaatan perangkat lunak. Hal ini karena e-Learning adalah juga merupakan suatu perangkat lunak. Aplikasi e-Learning terlengkap dan terbaik yang ada di internet belum tentu sesuai dengan kebutuhan sebenarnya dari pengguna. Saat ini sebenarnya industri e-Learning sedang mengalami krisis, yang berakibat ke kegagalan e-Learning. Dari sebuah studi tahun 2000 yang dilakukan oleh Forrester Group kepada 40 perusahaan besar menunjukkan bahwa sebagian besar pekerja (lebih dari 68%) menolak untuk mengikuti pelatihan/kursus yang menggunakan konsep e-Learning. Ketika e-Learning itu diwajibkan kepada mereka 30% menolak untuk mengikuti ([Dublin, 2003] dalam Romi Satria Wahono. IlmuKomputer.Com)
Sedangkan studi lain mengindikasikan bahwa dari orang-orang yang mendaftar untuk mengikuti e-Learning, 50-80% tidak pernah menyelesaikannya sampai akhir ([Delio, 2000] dalam Romi Satria Wahono)
Dari berbagai literatur yang ada, kegagalan e-Learning sebagian besar diakibatkan oleh kegagalan dalam analisa kebutuhan yang mengandung pengertian bahwa pengembang tidak berhasil meng-capture apa sebenarnya kebutuhan dari pengguna (user needs). Hasil dari proses analisa kebutuhan (requirements analysis) pengguna diterjemahkan sebagai fitur-fitur yang sebaiknya masuk dalam sistem e-Learning yang di kembangkan.
Sebagai pedoman fitur-fitur yang biasanya disediakan dalam sistem e-learning dapat menggunakan konsep penggunaan ICT yang penulis kemukakan diatas. Karena pada dasarnya e-Learning merupakan salah satu metode penerapan ICT yang berbasis WEB dengan menggunakan teknologi Internet, dalam artian sistem jaringan online yang lebih luas tanpa batas. Dengan sistem e-Learning, seseorang yang ingin belajar bebas untuk memilih apa yang akan di pelajari dalam waktu yang tidak terikat dan bebas untuk mengekspresikan semua materi yang didapatkan.
Dalam pembuatan konsep pengaplikasian e-Learning alangkah baiknya bila kita gunakan konsep-konsep yang berbasis pada analisis kebutuhan tiap-tiap pemakai. Sehingga dalam hal ini diperlukan suatu kerja sama yang saling berkaitan dalam membentuk suatu wadah untuk menuangkan karya cipta antara kebutuhan dan proses produksi materi untuk menghasilkan pembelajaran berbasis e-Learning yang optimal dan sesuai. Maka dalam hal ini diperlukan suatu pengembangan SDM yang dapat menguasai teknologi dan materi-materi pendidikan untuk dapat bekerja sama membentuk team work yang solid.
Merangkum berbagai pemikiran, Uwes A. Chaeruman (2008) menyatakan bahwa integrasi TIK dalam pembelajaran yang sesungguhnya harus memungkinkan terjadinya proses belajar yang:
  1. Aktif; memungkinkan siswa dapat terlibat aktif oleh adanya proses belajar yang menarik dan bermakna.
  2. Konstruktif; memungkinkan siswa dapat menggabungkan ide-ide baru kedalam pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya untuk memahami makna atau keinginan tahuan dan keraguan yang selama ini ada dalam benaknya.
  3. Kolaboratif; memungkinkan siswa dalam suatu kelompok atau komunitas yang saling bekerjasama, berbagi ide, saran atau pengalaman, menasehati dan memberi masukan untuk sesama anggota kelompoknya.
  4. Antusiastik; memungkinkan siswa dapat secara aktif dan antusias berusaha untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
  5. Dialogis; memungkinkan proses belajar secara inherent merupakan suatu proses sosial dan dialogis dimana siswa memperoleh keuntungan dari proses komunikasi tersebut baik di dalam maupun luar sekolah.
  6. Kontekstual; memungkinkan situasi belajar diarahkan pada proses belajar yang bermakna (real-world) melalui pendekatan ”problem-based atau case-based learning
  7. Reflektif; memungkinkan siswa dapat menyadari apa yang telah ia pelajari serta merenungkan apa yang telah dipelajarinya sebagai bagian dari proses belajar itu sendiri. (Jonassen (1995), dikutip oleh Norton et al (2001)).
  8. Multisensory; memungkinkan pembelajaran dapat disampaikan untuk berbagai modalitas belajar (multisensory), baik audio, visual, maupun kinestetik (dePorter et al, 2000).
  9. High order thinking skills training; memungkinkan untuk melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi (seperti problem solving, pengambilan keputusan, dll.) serta secara tidak langsung juga meningkatkan ”ICT & media literacy” (Fryer, 2001).

DAFTAR PUSTAKA
Ade Koesnandar. 2007. TIK untuk pembelajaran. Jakarta: Pustekom Depdiknas.
Asep Zaenal Rahmat. 2008. Strategi pembelajaran berbasis TIK. Jakarta: Pustekom Depdiknas.
Departemen Pendidikan Nasional, 2006. Garis Besar Program Kegiatan Pengembangan ICT dan TV Edukasi. Jakarta: Direkturat Pembinaan SMK.
Isjoni, dkk, 2008, ICT Untuk Sekolah Unggul. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Puji Raharjo. 2008. Pemanfaatan internet dalam pembelajaran Jakarta: Pustekom Depdiknas
http://elina.narotama.ac.id/