KONSEP,TUJUAN,DAN
PERAN TIK SEBAGAI MEDIA DALAM ILMU
MANAJEMEN
1.PENGERTIAN
Information
and Communication Technology (ICT) merupakan satu istilah yang sudah
tidak asing lagi bagi kita. ICT yang kemudian diterjemahkan sebagai Teknologi
Informasi dan Komunikasi (TIK) sudah menjadi bagian dari keseharian,kita sedang
berada dalam pusaran gelombang perubahan teknologi informasi pendidikan tidak
dapat menghindarkan diri dari pengaruh gelombang perubahan teknologi informasi.
Respon kita terhadap gelombang perubahan tersebut adalah memanfaatkannya
sebagai wahana transformasi,dalam ILMU
MANAJEMEN dapat menjadi alat bantu pembelajaran,standar kompetensi,media
promosi,pekejaan,kebebasan berekspresi,sosial dan budaya, Karena peran TIK
begitu penting dalam segala hal.
Termasuk yang saat ini sedang gencarnya dilakukan oleh salah perguruan tinggi di Surabaya yaitu Universitas Narotama menjadikan TIK sebagai media untuk tujuan sumbangsih kemajuaan bangsa indonesia,menjadikan mahasiswa menjadi seorang yang pro patria sesuai visi dan misi universitas narotama,mengembangkan kreativitas tanpa batas di dunia maya.nilai-nilai budaya dalam filosofi pendidikan serta menambah wawasan dan lmu pengetahuan yang berguna dalam kehidupan,
salah satu fakultas di Universitas Narotama ( Fenaro ) telah mengalami kemajuan yang cukup pesat terutama dalam bidang TIK dengan dijadikannya TIK sebagai media pembelajaran yang sangat kompetitif dalam materi pembelajaran di kampus salah satunya yaitu e-Learning narotama (eLINa),sekaligus sebagai media promosi,dan sosialisasi.keberhasilan itu tidak luput karena cara dan media penyampaian yang jelas,akurat,dan dapat dipercaya sebagai sumbernya.
2.KONSEP
Beberapa
hal berikut ini dapat kita jadikan acuan sebagai konsep dasar yang paling
sederhana dalam mengaplikasikan ICT/Komputer dalam dunia pendidikan, dan
pembelajaran, yaitu:
- Adanya web site pada sekolah dengan dwi bahasa
(Inggris dan Indonesia)
a.Pusat interkoneksi intranet dan
internet di setiap sekolah.
b. Pusat layanan informasi
pendidikan bagi sekolah, Pemerintah, industri dan masyarakat yang meliputi
kegiatan sekolah antara lain: Penerimaan Siswa Baru, Data Sekolah, Data Siswa,
Proses Pembelajaran, Berita Sekolah, Bursa Kerja Khusus, Evaluasi, dll.
- Sarana Komunikasi Sisterschool dan partnership
dengan sekolah luar negeri. ICT sebagai alat komunikasi di sekolah dan
dengan partnership Luar negeri bermanfaat sebagai:
a. Video Conference (Pembelajaran
Jarak Jauh)
b. Tukar-menukar informasi unutk
mengembangkan pembelajaran
- ICT sebagai instrument untuk menampilkan pelaporan
sekolah kepada stakeholder (Pemerintah, Guru, Pemda, masyarakat dan
industri serta partnership.
- Sarana kemudahan presentasi dan akses ke sumber
referensi
- Sumber data informasi lembaga yang berfungsi sebagai
media informasi dan promosi kinerja lembaga.
- Berkenaan dengan tujuan dan sasaran dari pendidikan
dan pembelajaran pada masyarakat pendidikan.
- Apakah silabus yang dipakai sudah tepat dan dimana
tempat untuk mencari acuan yang tepat.
- Metode-metode pengajaran harus tepat sasaran dan
sesuai dengan kebutuhan
- Jadwal pelajaran, jadwal diklat, atau jadwal ujian
dapat di-upload secara online
- Pemberian tugas dan pengumpulan data
- Sebagai media penampung informasi daftar referensi
atau bahan bacaan
- Profil lembaga dan kontak pengajar atau masyarakat
instansi
a. Pemanfaatan diktat dan catatan
pelajaran
b. Memudahkan pencarian dan
pembuatan bahan presentasi
c. Sebagai bank data semisal mencari
contoh ujian yang lalu atau soal yang lalu
d. Sebagai media tanya jawab / FAQ
(frequently asked questions)
e. Sumber-sumber referensi untuk
pengerjaan tugas
f. Sebagai penyedia situs-situs
bermanfaaat
g. Pencarian artikel-artikel dalam
jurnal online
- Sarana Komunikasi dalam kelas yang atraktif, inovatif
dan menarik
- Pemanfaatan forum diskusi online
- Mailing list diskusi
- Papan pengumuman yang menyediakan informasi (perubahan
jadwal kuliah, informasi tugas dan deadline-nya)
- Sarana untuk melakukan kerja kelompok
6. Sarana untuk sharing file dan
direktori dalam kelompok
7. sarana diskusi untuk
mengerjakan tugas dalam kelompok
b) Pusat interkoneksi intranet dan internet di setiap kota/kabupaten dan sekolah.
c) Memperluas proses pembelajaran yang terstandar di semua jenjeng pendidikan di seluruh Indonesia.
d) Menmgurangi disparitas pendidikan di setiap jenjeng pendidikan di seluruh Indonesia. Sebagai sarana pembelajaran jarak jauh yang merupakan salah satu strategi untuk meningkatkan mutu pendidikan. Mempersiapkan SDM Indonesia yang memiliki kompetensi skala nasional dan internasional berbasis keunggulan lokal. Manajemen Berbasis Sekolah (Suplemen BAC) 7
e) Menyediakan pusat informasi yang inovatif yang mampu membangkitkan kreatifitas guna meningkatkan kompetensi.
f) Mendistribusikan internet ke sekolah, dinas pendidikan dan institusi pendidikan lainnya.
g) Membantu memajukan perekonomian daerah melalui informasi dan komunikasi.
Untuk membuat media pembelajaran yang kreatif dan inovatif bebasis ICT perlu memanfaatkan perangkat multimedia. Dengan perangkat multimedia dapat menyerap konsentrasi dari segala aspek rangsangan yang ada pada indra manusia, antara lain visual, audio dan motorik.
- Pemanfaatan e-Learning
Ketika kita berbicara tentang
pemanfatan e-Learning, maka hakikatnya adalah sama saja dengan strategi
pemanfaatan perangkat lunak. Hal ini karena e-Learning adalah juga
merupakan suatu perangkat lunak. Aplikasi e-Learning terlengkap dan
terbaik yang ada di internet belum tentu sesuai dengan kebutuhan sebenarnya
dari pengguna. Saat ini sebenarnya industri e-Learning sedang mengalami
krisis, yang berakibat ke kegagalan e-Learning. Dari sebuah studi tahun
2000 yang dilakukan oleh Forrester Group kepada 40 perusahaan besar menunjukkan
bahwa sebagian besar pekerja (lebih dari 68%) menolak untuk mengikuti
pelatihan/kursus yang menggunakan konsep e-Learning. Ketika e-Learning
itu diwajibkan kepada mereka 30% menolak untuk mengikuti ([Dublin, 2003]
dalam Romi Satria Wahono. IlmuKomputer.Com)
Sedangkan studi lain mengindikasikan
bahwa dari orang-orang yang mendaftar untuk mengikuti e-Learning, 50-80%
tidak pernah menyelesaikannya sampai akhir ([Delio, 2000] dalam Romi Satria
Wahono)
Dari berbagai literatur yang ada,
kegagalan e-Learning sebagian besar diakibatkan oleh kegagalan dalam
analisa kebutuhan yang mengandung pengertian bahwa pengembang tidak berhasil
meng-capture apa sebenarnya kebutuhan dari pengguna (user needs).
Hasil dari proses analisa kebutuhan (requirements analysis) pengguna
diterjemahkan sebagai fitur-fitur yang sebaiknya masuk dalam sistem e-Learning
yang di kembangkan.
Sebagai pedoman fitur-fitur yang
biasanya disediakan dalam sistem e-learning dapat menggunakan konsep
penggunaan ICT yang penulis kemukakan diatas. Karena pada dasarnya e-Learning
merupakan salah satu metode penerapan ICT yang berbasis WEB dengan
menggunakan teknologi Internet, dalam artian sistem jaringan online yang
lebih luas tanpa batas. Dengan sistem e-Learning, seseorang yang ingin
belajar bebas untuk memilih apa yang akan di pelajari dalam waktu yang tidak
terikat dan bebas untuk mengekspresikan semua materi yang didapatkan.
Dalam pembuatan konsep
pengaplikasian e-Learning alangkah baiknya bila kita gunakan
konsep-konsep yang berbasis pada analisis kebutuhan tiap-tiap pemakai. Sehingga
dalam hal ini diperlukan suatu kerja sama yang saling berkaitan dalam membentuk
suatu wadah untuk menuangkan karya cipta antara kebutuhan dan proses produksi
materi untuk menghasilkan pembelajaran berbasis e-Learning yang optimal
dan sesuai. Maka dalam hal ini diperlukan suatu pengembangan SDM yang dapat
menguasai teknologi dan materi-materi pendidikan untuk dapat bekerja sama
membentuk team work yang solid.
Merangkum berbagai pemikiran, Uwes
A. Chaeruman (2008) menyatakan bahwa integrasi TIK dalam pembelajaran yang
sesungguhnya harus memungkinkan terjadinya proses belajar yang:
- Aktif; memungkinkan
siswa dapat terlibat aktif oleh adanya proses belajar yang menarik dan
bermakna.
- Konstruktif; memungkinkan
siswa dapat menggabungkan ide-ide baru kedalam pengetahuan yang telah
dimiliki sebelumnya untuk memahami makna atau keinginan tahuan dan keraguan
yang selama ini ada dalam benaknya.
- Kolaboratif; memungkinkan
siswa dalam suatu kelompok atau komunitas yang saling bekerjasama, berbagi
ide, saran atau pengalaman, menasehati dan memberi masukan untuk sesama
anggota kelompoknya.
- Antusiastik; memungkinkan
siswa dapat secara aktif dan antusias berusaha untuk mencapai tujuan yang
diinginkan.
- Dialogis; memungkinkan
proses belajar secara inherent merupakan suatu proses sosial dan dialogis
dimana siswa memperoleh keuntungan dari proses komunikasi tersebut baik di
dalam maupun luar sekolah.
- Kontekstual; memungkinkan
situasi belajar diarahkan pada proses belajar yang bermakna (real-world)
melalui pendekatan ”problem-based atau case-based learning”
- Reflektif; memungkinkan
siswa dapat menyadari apa yang telah ia pelajari serta merenungkan apa
yang telah dipelajarinya sebagai bagian dari proses belajar itu sendiri.
(Jonassen (1995), dikutip oleh Norton et al (2001)).
- Multisensory; memungkinkan
pembelajaran dapat disampaikan untuk berbagai modalitas belajar (multisensory),
baik audio, visual, maupun kinestetik (dePorter et al, 2000).
- High order thinking skills training; memungkinkan untuk melatih kemampuan berpikir tingkat
tinggi (seperti problem solving, pengambilan keputusan, dll.) serta secara
tidak langsung juga meningkatkan ”ICT & media literacy” (Fryer,
2001).
Ade Koesnandar. 2007. TIK untuk pembelajaran. Jakarta: Pustekom Depdiknas.
Asep Zaenal Rahmat. 2008. Strategi pembelajaran berbasis TIK. Jakarta: Pustekom Depdiknas.
Departemen Pendidikan Nasional, 2006. Garis Besar Program Kegiatan Pengembangan ICT dan TV Edukasi. Jakarta: Direkturat Pembinaan SMK.
Isjoni, dkk, 2008, ICT Untuk Sekolah Unggul. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Puji Raharjo. 2008. Pemanfaatan internet dalam pembelajaran Jakarta: Pustekom Depdiknas



Tidak ada komentar:
Posting Komentar